Filsafat
secara etimologis berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos berarti suka,
cinta, atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan.
Dengan demikian, secara sederhana, filsafat dapat diartikan cinta atau
kecenderungan pada kebijaksanaan.
Ada
beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan
fungsinya sebagai berikut:
1.
Filsafat
adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang
biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
2.
Filsafat
adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang
sangat kita junjung tinggi (arti formal).
3.
Filsafat
adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha
untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan
sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (erti spekulatif)
4.
Filsafat
adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan
konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme.
5.
Filsafat
adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia
dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Filsafat
bisa dimengerti dan dilakukan melalui banyak cara, sehingga berlaku prinsip
“Variis modis bene fit”, dapat berhasil melalui banyak cara yang berbeda.
Bertens menengarai ada beberapa gaya berfilsafat. Pertama, berfilsafat yang
terkait erat dengan sastra. Artinya, sebuah karya filsafat dipandang melalui
nilai-nilai sastra tinggi. Contoh: Sartre tidak hanya dikenal sebagai penulis
karya filsafat, tetapi juga seorang penulis novel, drama, scenario film. Bahkan
beberapa filsuf pernah meraih hadiah Nobel untuk bidang kesusasteraan. Kedua,
berfilsafat yang dikaitkan dengan social politik. Di sini, filsafat sering
dikaitkan dengan praksis politik. Artinya sebuah karya filsafat dipandang
memiliki dimensi-dimensi ideologis yang relevan dengan konsep negara. Filsuf
yang menjadi primadona dalam gaya berfilsafat semacam ini adalah Karl Marx
(1818-1883) yang terkenal dengan ungkapannya: “Para filsuf sampai sekarang
hanya menafsirkan dunia. Kini tibalah saatnya untuk mengubah dunia”. Ketiga,
filsafat yang terkait erat dengan metodologi. Artinya para filsuf menaruh
perhatian besar terhadap persoalan-persoalan metode ilmu sebagaimana yang
dilakukan oleh Descartes dan Karl Popper. Descartes mengatakan bahwa untuk
memperoleh kebenaran yang pasti kita harus mulai meragukan segala sesuatu.
Sikap yang demikian itu dinamakan skeptis metodis. Namun pada akhirnya ada satu
hal yang tidak dapat kita ragukan, yakni kita yang sedang dalam keadaan
ragu-ragu, Cogito Ergo Sum. Keempat, berfilsafat yang berkaitan dengan kegiatan
analisis bahasa. Kelompok ini dinamakan mazhab analitika bahasa dengan tokoh-tokohnya
antara lain: G.E Moore, Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, dan
John Langshaw Austin. Corak berfilsafat yang menekankan pada aktivitas analisis
bahasa ini dinamakan logosentrisme. Tokoh sentral mazhab ini, Wittgenstein
mengatakan bahwa filsafat secara keseluruhan adalah kritik bahasa. Tujuan utama
filsafat ini adalah untuk mendapatkan klarifikasi logis tentang pemikiran.
Filsafat bukanlah seperangkat doktrin, melainkan suatu kegiatan. Kelima,
berfilsafat yang dikaitkan dengan menghidupkan kembali pemikiran filsafat di
masa lampau. Di sini, aktifitas filsafat mengacu pada penguasaan sejarah
filsafat. Dalam hal ini, mempelajari filsafat yang dipandang baik adalah dengan
mengkaji teks-teks filosofis dari para filsuf terdahulu. Keenam, masih ada gaya
filsafat lain yang cukup mendominasi pemikiran banyak orang, terutama di abad
keduapuluh ini yakni berfilsafat dikaitkan dengan filsafat tingkah laku atau
etika. Etika dipandang sebagai satu-satunya kegiatan filsafat yang paling
nyata, sehingga dinamakan juga praksiologis, bidang ilmu prkasis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar